“Sebenarnya kekayaan alam yang kita miliki, cukup untuk menghidupi seluruh umat manusia, tetapi tidak mencukupi bagi satu orang yang serakah”, begitulah ucap Gandhi
Presiden Jokowi: Jangan Hanya Jargon, Aktualisasikan Gotong Royong

Presiden Jokowi: Jangan Hanya Jargon, Aktualisasikan Gotong Royong

29 May 2015

Presiden Jokowi didampingi Ibu Negara Iriana menghadiri puncak peringatan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat ke-12, di Manado, Sulut, Kamis (28/5) Menado, Indoleader--Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Ibu Hj. Iriana Jokowi sejak Rabu (27/5) malam telah berada di Manado, Sulawesi Utara, untuk sejumlah agenda di Manado dan sejumlah daerah di provinsi tersebut.

PRIMA DMI Resmi Berdiri

PRIMA DMI Resmi Berdiri

28 May 2015

PRIMA DMI periode 2015-2018 JAKARTA, Indoleader-- Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia secara resmi telah melantik sekaligus mengukuhkan Jajaran Pimpinan Pusat Perhimpunan Remaja Masjid Indonesia Dewan Masjid Indonesia (PRIMA DMI) Periode 2015-2018 pada Rabu (27/-5/2015) pagi, yang menjadi rangkaian acara penutupan Lokakarya Nasional Wakaf dan Aset-Aset Masjid di Indonesia. Sekretaris Jendral...

DPR Bertekad Tidak Ada Pasal Titipan Dalam RUU Perbankan

DPR Bertekad Tidak Ada Pasal Titipan Dalam RUU Perbankan

26 May 2015

Andreas Eddy Susetyo Jakarta, Indoleader-- Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDI-P), Andreas Eddy Susetyo mengatakan, DPR bertekad tidak akan ada pasal titipan dari pihak manapun dalam menyusun RUU Perbankan.

Aksi Solidaritas UGM Untuk Rohingya

Aksi Solidaritas UGM Untuk Rohingya

25 May 2015

  “Aksi Solidaritas Untuk Rohingya” dilaksanakan di kampus Universitas Gadjah Mada pada Jum’at (22/5)   Yogyakarta,  Indoleader--  Konflik kemanusiaan etnis Rohingya di Myanmar menguak ke permukaan. Diperkirakan ada ribuan pengungsi yang terombang-ambing di laut Andaman dan sekitar selat Malaka. Eksodus besar-besaran, diskriminasi akut, pembunuhan, serta penindasan menjadi ancaman bagi etnis Rohingya yang bermukim...

Demo 20 Mei : Lebih Banyak Polisi Ketimbang Demonstran

Demo 20 Mei : Lebih Banyak Polisi Ketimbang Demonstran

20 May 2015

Ilustrasi Demo Besar-Besaran Mahasiswa Jakarta, indoleader--Ancaman aksi demonstrasi besar-besaran peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei hanya isapan jempol belaka. Hingga, pukul 13.30 WIB hanya terjadi demo kecil di depan gedung parlemen dan di Bundaran Hotel Indonesia  melibatkan sejumlah elemen massa, Rabu (20/5) siang.

Dede Yusuf : Minta Pemerintah optimalkan upaya promotif dan preventif dalam masalah kesehatan

Dede Yusuf : Minta Pemerintah optimalkan upaya promotif dan preventif dalam masalah kesehatan

20 May 2015

Dede Yusuf di kantor Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB-IDI), Jakarta, Selasa (19/5) dalam acara dialog kebangsaan dan Hari bakti dokter Indonesia 2015. Ketua Komisi IX DPR Dede Yusuf meminta kepada pemerintah agar lebih mengoptimalkan upaya promotif dan preventif dalam masalah kesehatan Karena, ia melihat selama ini pemerintah justru lebih fokus...

Jakarta, Indoleader- Agus Supriyanto, lelaki lajang asal Sragen 44 tahun silam. Sosok lelaki bersahaja.Meski belum genap setahun menjadi  Kepala Sekolah Alternatif Anak Jalanan  (SAAJA)  dengan fasih bercerita tentang anak anak  SAAJA.

 

Keiza, mewarnai gambar gajahnya bagus ya, kata Agus yang akrab disapa ayah seraya menunjuk gambar gajah yang berwarna merah.  Badan gajah berwarna merah ya,€tanya  pada Keiza. Enggak,” jawab Keiza. Sesaat Keiza menerawang membandingkan imajinasinya gajah berwarna merah dengan gajah yang dilihatnya di Kebun Binatang Ragunan berwarna hitam.

Ayah, ini  gambar aku,kata Febri sambil menunjukan gambar gajah yang berwarna  warni percis pelangi. €œ Bagus, pelangi itu indah, kata  Agus.  Bagi Agus, yang dikerjakan dan dibuat anak  anak adalah bagus tidak ada kata jelek.  Kata bagus adalah kunci membentuk karakter  anak senantiasa berpikir positif dan percaya diri, jawab Agus saat ditanya mengapa kerap mengatakan bagus.

Menurut Agus, Setiap anak adalah special karena itu mesti diperlakukan special. Perlakuan special dan penuh perhatian pada anak membuat mereka tumbuh jadi anak yang special. Apalagi beberapa anak tidak tumbuh pada lingkungan dan keluarga yang sehat. Ini problem perkotaan, tambah Agus menunjuk persoalan besar kota Jakarta untuk menyediakan akses pendidikan bagi masyrakat tidak mampu.

Agus tidak sendiri dalam mengelola SAAJA, sebutlah beberapa guru, Keke, Kiki dan Eka. €œMereka adalah kawan kerja yang baik, meski  tantangannya segunung, kata Keke salah seorang guru yang hobi naik gunung.


Asyik aja ngelola SAAJA,kata Eka nimbrung percakapan. Disela sela waktu kerjanya sebagai jasa kurir, Eka menyempatkan mengajar anak anak SAAJA. Kenapa kita solid, kata Eka dengan nada bertanya. €œ Karena kita telah terbentuk sebagai sebuah Tim Kerja selama bertahun tahun dalam  LSM Pangan  untuk Rakyat Miskin (PARAM) sebagai cikal bakal SAAJA  seraya menunjuk beberapa nama, Indri, Lutfan, Helmy dan Budi. €Kami dididik dalam Param oleh almarhum Farid Faqih, kata Eka dengan mata menerawang seolah Bang Farid  biasa mereka memanggil- tengah berdiri bersama mereka.Rasanya rindu kalau tidak menyempatkan berkumpul di SAAJA. Disini tempat saya menemukan semangat pengabdian, tambah Helmy yang saat ini bekerja pada perusahaan tambang.

Kini SAAJA punya  2 relawan guru tetap dan 2 relawan guru tidak tetap, dengan mengasuh 38 murid,” kata Kiki yang berjilbab nyeletuk di tengah percakapan. 

Agus menceritakan asal muasal Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA) berdiri, awalnya Param telah mendirikan Sekolah untuk Rakyat Miskin (SRM)  sejak bulan Maret tahun 2000. Berlokasi diperkampungan kumuh tepatnya di Pengarengan, Pedongkelan Jakarta Timur. Dalam perjalanannya SRM berganti nama menjadi SAJA (Sekolah Anak Jalanan).

Bulan Mei tahun 2000, SRM diresmikan oleh Mulyana W. Kusumah proses belajar pun berjalan baik. Malang tak dapat ditolak, akhir tahun 2000 terjadi kebakaran yang menghanguskan 500 rumah warga, termasuk tempat belajar SRM, hangus tinggal puing.

Proses belajar tidak berhenti sekalipun sekolah ikut terbakar. Kegiatan belajar tetap berjalan dengan memanfaatkan lapangan terbuka di tepi danau Pedongkelan,” timpal Indri.

Agus menerangkan, tahun 2001, LSM Param menyewa sebidang tanah berlokasi di Pengarengan, dan membangun tempat sekolah semi permanen. Seiring menempati  bangunan baru sebagai tempat belajar, nama SRM diganti dengan Sekolah Anak Jalanan (SAJA). SAJA diresmikan oleh Dirjen Dikdasmen Depdiknas, Prof. Dr. Indra Djati Sidi. Waktu itu , Alm. Farid Faqih (Koordinator LSM Pangan untuk Rakyat Miskin Param) mengembangkan SAJA dengan mendirikan SAAJA di kawasan Kuningan. Tahun Oktober 2002  pengembangan pendidikan untuk rakyat kurang mampu, LSM Param  membuka sekolah setingkat TK di daerah Jl. H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta selatan dengan nama Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA).

Sejak wafatnya Alm. H. Ahmad Farid Faqih pada tahun 2011manajemen SAAJA diteruskan oleh Istri Almarhum ristina Ratih Farid sebagai Pembina merangkap Kepala Sekolah SAAJA. Peninggalan alamarhum yang paling berharga adalah SAAJA. Laksana amanah, SAAJA tempat menyemai generasi yang lebih baik. Mereka tidak boleh terhambat karena tidak ada biaya atau karenaanak jalanan, kata Ratih Farid yang mendedikasikan rumah inventarisnya untuk  menjadi sekretariat Komite Independen  Pemantau Pemilu (KIPP) dan Goverment  Watch (GOWA).

Saya berpandangan SAAJA harus dilanjutkan oleh kaum muda. Terpilihnya Agus Supriyanto  adalah sebagai  kepala Sekolah adalah cara melanjutkan cita – cita Farid Faqih,”  tandas Ratih Farid.

Berkaca pada pengalaman dan realita yang ditemukan selama bergaul dengan anak jalanan, Ratih berpendapat solusi yang paling tepat untuk membantu memperbaiki nasib mereka adalah melalui pendidikan dan pemberdayaan pada anak jalanan. "Kuncinya adalah pendidikan dan pemberdayaan. Mereka harus diselamatkan, siapa lagi kalau bukan kita," ujar Ratih.

Agus menambahkan, akses pendidikan yang sulit bagi masyarakat miskin dan  anak jalanan sejatinya bisa muncul di mana-mana. Tak hanya di kota besar tapi di kota kecilpun ada. Persoalan ini sebenarnya merupakan masalah bersama, pemerintah dan masyarakat, yang harus dicarikan solusinya bersama-sama. Harapan agar masyarakat bias memunculkan lebih banyak lagi kegiatan-kegiatan pembinaan sejenis, terutama yang berorientasi penumbuhan kreatifitas.

Jangan dikira ide selangit itu tidak tumbuh dalam gedung mewah dengan fasilitas yang mumpuni. Ide itu tumbuh dalam sekolah SAAJA , berukuran 6 x 20 M sekolah SAAJA beratap rumbia bertiang bambu,dengan lantai tanah beralas plastik. Jika hujan tempias airnya menggenang dalam ruang kelas. “ Itu salah satu tiang bambu penyangga ruangan tampak  doyong,” ujar staf perawatan SAAJA , Tri sambil menunjuk salah satu tiang yang mulai rapuh dimakan usia.

Ironi jika dibandingkan tak lebih jaraknya dari selemparan batu, berdiri beberapa gedung jangkung. Meski sekolahnya begini,€ kata salah seorang orang tua murid Mamah Putri. Disini anak  anak mendapat pendidikan yang pantes. Udah banyak anak  anak keluaran sekolah SAAJA  berprestasi  saat masuk SD,tukas Mamah Putri,  yang bersama orang tua murid lainnya tengah membuat bunga dari sedotan plastik.  Baru ini yang bisa kita bantu, kata Mamah Keiza seraya menunjuk buah tangannya bunga plastik dari sedotan.

Penghujung percakapan, kedepan SAAJA  berencana meningkatkan kapasitas sebagai rumah bermain bagi anak anak Jakarta untuk menemukan bakat dan masa depan mereka. Tugas kita adalah memfasilitasi agar mereka tumbuh dengan tumbuh dengan baik. Sepantasnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memfasilitasi harapan dan semangat ini. Kami juga mengundang masyarakat untuk turut berperan, pungkas Agus. (gun)