Ribuan Buruh Padati Depan Istana Negara

Ribuan Buruh Padati Depan Istana Negara

02 September 2015

Ribuan Buruh memadati depan Istana Negara di Jakarta (1/9) photo Didik Jakarta, indoleader--Ribuan Buruh memadati  depan Istana  Negara di Jakarta (1/9). Massa  buruh yang datang dengan menumpang kendaraan pribadi, Bus dan mobil komando yang telah dilengkapi pengeras suara, membawa berbagai atribut yang bertuliskan tuntutan dari berbagai organisasi Buruh.

Wakil Menteri Ekonomi Taiwan Cho Shih Chao, Resmi Buka Taiwan Trade Meeting 2015

Wakil Menteri Ekonomi Taiwan Cho Shih Chao, Resmi Buka Taiwan Trade Meeting 2015

01 September 2015

Wakil Menteri Ekonomi Resmi Buka Acara Taiwan Trade Meeting 2015 Jakarta, indoleader--Taiwan External Trade Development Council (TAITRA) kembali  menggelar even akbar Taiwan Trade Meeting 2015 di Pullman Hotel, Jakarta, (31/8). Misi perdagangan Taiwan  di Indonesia ini mengdirkan produk produk branded ternama dari 80 perusahaan ternama Taiwan serta dihadiri sekitar 300 mitra...

KEDUBES AS BERI PENGHARGAAN KEPADA PENULIS MUDA

KEDUBES AS BERI PENGHARGAAN KEPADA PENULIS MUDA

01 September 2015

Kedubes AS Jakarta, indoleader--Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta memberikan penghargaan kepada sembilan siswa dan siswi dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang telah mengikuti lomba penulisan esai bertema tentang masalah lingkungan hidup, sosial dan budaya (31/08).

Pemerintah Mendengar Keinginan Anak-Anak dalam Lomba Lari Estafet  2015

Pemerintah Mendengar Keinginan Anak-Anak dalam Lomba Lari Estafet 2015

31 August 2015

Final Race For Survival Indonesia 2015, GOR Mahasiswa Soemantri Brojonegoro . photo didik Jakarta, indoleader--Race For Survival Indonesia 2015 kembali digelar  di GOR Sumantri Brojonegoro, Kuningan, Sabtu (29/8/2015). Race for Survival  merupakan program tahunan yang bersifat global yang diikuti lebih dari 60 negara.

Final Race For Survival Indonesia 2015 Digelar

Final Race For Survival Indonesia 2015 Digelar

29 August 2015

Final Race For Survival Indonesia 2015, GOR Mahasiswa Soemantri Brojonegoro . photo didik Jakarta, indoleader--Final Race For Survival Indonesia 2015 kembali digelar  di GOR Sumantri Brojonegoro, Kuningan, Sabtu (29/8/2015). Race for Survival  merupakan program tahunan yang bersifat global yang diikuti lebih dari 60 negara. Acara tahunan yang diselenggarakan oleh lembaga non...

Halal Bihalal & Diskusi Jaringan Aktifis ProDem, “Ganti Jokowi-JK harga mati !!”

Halal Bihalal Diskusi Jaringan Aktifis ProDem, “Ganti Jokowi-JK harga mati !!”

22 August 2015

  Halal Bihalal Diskusi Jaringan Aktifis ProDem, di Flora Garden Cafe, Jl Gatot Subroto, Pancoran, Jaksel, Jumat (21/8). Jakata, indoleader--Belum setahun Jokowi memerintah, Jaringan Aktivis Pro-Demokrasi (Prodem) sepertinya sudah tidak sabar menghendaki perubahan. Yel yel teriakan ganti pucuk pimpinan Jokowi-JK dicanangkan sebagai harga mati bagi perubahan untuk kepastian Indonesia kedepan...

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Jakarta, Indoleader- Agus Supriyanto, lelaki lajang asal Sragen 44 tahun silam. Sosok lelaki bersahaja.Meski belum genap setahun menjadi  Kepala Sekolah Alternatif Anak Jalanan  (SAAJA)  dengan fasih bercerita tentang anak anak  SAAJA.

 

Keiza, mewarnai gambar gajahnya bagus ya, kata Agus yang akrab disapa ayah seraya menunjuk gambar gajah yang berwarna merah.  Badan gajah berwarna merah ya,€tanya  pada Keiza. Enggak,” jawab Keiza. Sesaat Keiza menerawang membandingkan imajinasinya gajah berwarna merah dengan gajah yang dilihatnya di Kebun Binatang Ragunan berwarna hitam.

Ayah, ini  gambar aku,kata Febri sambil menunjukan gambar gajah yang berwarna  warni percis pelangi. €œ Bagus, pelangi itu indah, kata  Agus.  Bagi Agus, yang dikerjakan dan dibuat anak  anak adalah bagus tidak ada kata jelek.  Kata bagus adalah kunci membentuk karakter  anak senantiasa berpikir positif dan percaya diri, jawab Agus saat ditanya mengapa kerap mengatakan bagus.

Menurut Agus, Setiap anak adalah special karena itu mesti diperlakukan special. Perlakuan special dan penuh perhatian pada anak membuat mereka tumbuh jadi anak yang special. Apalagi beberapa anak tidak tumbuh pada lingkungan dan keluarga yang sehat. Ini problem perkotaan, tambah Agus menunjuk persoalan besar kota Jakarta untuk menyediakan akses pendidikan bagi masyrakat tidak mampu.

Agus tidak sendiri dalam mengelola SAAJA, sebutlah beberapa guru, Keke, Kiki dan Eka. €œMereka adalah kawan kerja yang baik, meski  tantangannya segunung, kata Keke salah seorang guru yang hobi naik gunung.


Asyik aja ngelola SAAJA,kata Eka nimbrung percakapan. Disela sela waktu kerjanya sebagai jasa kurir, Eka menyempatkan mengajar anak anak SAAJA. Kenapa kita solid, kata Eka dengan nada bertanya. €œ Karena kita telah terbentuk sebagai sebuah Tim Kerja selama bertahun tahun dalam  LSM Pangan  untuk Rakyat Miskin (PARAM) sebagai cikal bakal SAAJA  seraya menunjuk beberapa nama, Indri, Lutfan, Helmy dan Budi. €Kami dididik dalam Param oleh almarhum Farid Faqih, kata Eka dengan mata menerawang seolah Bang Farid  biasa mereka memanggil- tengah berdiri bersama mereka.Rasanya rindu kalau tidak menyempatkan berkumpul di SAAJA. Disini tempat saya menemukan semangat pengabdian, tambah Helmy yang saat ini bekerja pada perusahaan tambang.

Kini SAAJA punya  2 relawan guru tetap dan 2 relawan guru tidak tetap, dengan mengasuh 38 murid,” kata Kiki yang berjilbab nyeletuk di tengah percakapan. 

Agus menceritakan asal muasal Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA) berdiri, awalnya Param telah mendirikan Sekolah untuk Rakyat Miskin (SRM)  sejak bulan Maret tahun 2000. Berlokasi diperkampungan kumuh tepatnya di Pengarengan, Pedongkelan Jakarta Timur. Dalam perjalanannya SRM berganti nama menjadi SAJA (Sekolah Anak Jalanan).

Bulan Mei tahun 2000, SRM diresmikan oleh Mulyana W. Kusumah proses belajar pun berjalan baik. Malang tak dapat ditolak, akhir tahun 2000 terjadi kebakaran yang menghanguskan 500 rumah warga, termasuk tempat belajar SRM, hangus tinggal puing.

Proses belajar tidak berhenti sekalipun sekolah ikut terbakar. Kegiatan belajar tetap berjalan dengan memanfaatkan lapangan terbuka di tepi danau Pedongkelan,” timpal Indri.

Agus menerangkan, tahun 2001, LSM Param menyewa sebidang tanah berlokasi di Pengarengan, dan membangun tempat sekolah semi permanen. Seiring menempati  bangunan baru sebagai tempat belajar, nama SRM diganti dengan Sekolah Anak Jalanan (SAJA). SAJA diresmikan oleh Dirjen Dikdasmen Depdiknas, Prof. Dr. Indra Djati Sidi. Waktu itu , Alm. Farid Faqih (Koordinator LSM Pangan untuk Rakyat Miskin Param) mengembangkan SAJA dengan mendirikan SAAJA di kawasan Kuningan. Tahun Oktober 2002  pengembangan pendidikan untuk rakyat kurang mampu, LSM Param  membuka sekolah setingkat TK di daerah Jl. H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta selatan dengan nama Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA).

Sejak wafatnya Alm. H. Ahmad Farid Faqih pada tahun 2011manajemen SAAJA diteruskan oleh Istri Almarhum ristina Ratih Farid sebagai Pembina merangkap Kepala Sekolah SAAJA. Peninggalan alamarhum yang paling berharga adalah SAAJA. Laksana amanah, SAAJA tempat menyemai generasi yang lebih baik. Mereka tidak boleh terhambat karena tidak ada biaya atau karenaanak jalanan, kata Ratih Farid yang mendedikasikan rumah inventarisnya untuk  menjadi sekretariat Komite Independen  Pemantau Pemilu (KIPP) dan Goverment  Watch (GOWA).

Saya berpandangan SAAJA harus dilanjutkan oleh kaum muda. Terpilihnya Agus Supriyanto  adalah sebagai  kepala Sekolah adalah cara melanjutkan cita – cita Farid Faqih,”  tandas Ratih Farid.

Berkaca pada pengalaman dan realita yang ditemukan selama bergaul dengan anak jalanan, Ratih berpendapat solusi yang paling tepat untuk membantu memperbaiki nasib mereka adalah melalui pendidikan dan pemberdayaan pada anak jalanan. "Kuncinya adalah pendidikan dan pemberdayaan. Mereka harus diselamatkan, siapa lagi kalau bukan kita," ujar Ratih.

Agus menambahkan, akses pendidikan yang sulit bagi masyarakat miskin dan  anak jalanan sejatinya bisa muncul di mana-mana. Tak hanya di kota besar tapi di kota kecilpun ada. Persoalan ini sebenarnya merupakan masalah bersama, pemerintah dan masyarakat, yang harus dicarikan solusinya bersama-sama. Harapan agar masyarakat bias memunculkan lebih banyak lagi kegiatan-kegiatan pembinaan sejenis, terutama yang berorientasi penumbuhan kreatifitas.

Jangan dikira ide selangit itu tidak tumbuh dalam gedung mewah dengan fasilitas yang mumpuni. Ide itu tumbuh dalam sekolah SAAJA , berukuran 6 x 20 M sekolah SAAJA beratap rumbia bertiang bambu,dengan lantai tanah beralas plastik. Jika hujan tempias airnya menggenang dalam ruang kelas. “ Itu salah satu tiang bambu penyangga ruangan tampak  doyong,” ujar staf perawatan SAAJA , Tri sambil menunjuk salah satu tiang yang mulai rapuh dimakan usia.

Ironi jika dibandingkan tak lebih jaraknya dari selemparan batu, berdiri beberapa gedung jangkung. Meski sekolahnya begini,€ kata salah seorang orang tua murid Mamah Putri. Disini anak  anak mendapat pendidikan yang pantes. Udah banyak anak  anak keluaran sekolah SAAJA  berprestasi  saat masuk SD,tukas Mamah Putri,  yang bersama orang tua murid lainnya tengah membuat bunga dari sedotan plastik.  Baru ini yang bisa kita bantu, kata Mamah Keiza seraya menunjuk buah tangannya bunga plastik dari sedotan.

Penghujung percakapan, kedepan SAAJA  berencana meningkatkan kapasitas sebagai rumah bermain bagi anak anak Jakarta untuk menemukan bakat dan masa depan mereka. Tugas kita adalah memfasilitasi agar mereka tumbuh dengan tumbuh dengan baik. Sepantasnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memfasilitasi harapan dan semangat ini. Kami juga mengundang masyarakat untuk turut berperan, pungkas Agus. (gun)