FENOMENA DAN MOTIVASI TEROR

Oleh : Drs. Toni Ervianto, MSi

  1. LATAR BELAKANG

 

Aksi teror yang sampai saat ini masih marak di berbagai negara, termasuk Indonesia dapat terjadi karena adanya beragam fenomena yang melatarbelakanginya, termasuk beragam motivasi.

Menurut Laurence Wright, aksi teror dapat dilakukan dengan beberapa motif yang didasari pada niat dan tujuan. Faktor pendorong motivasi teror antara lain pertama, adanya ketidakadilan dalam hal terkait dengan pengelolaan tanah, tidak adanya kebebasan, tidak terpenuhinya hak-hak dasar, serta adanya peluang. Kedua, tantangan untuk menegaskan kembali identitas, status, dan kepemilikan yang sah yang selama ini hilang. Ketiga, untuk melindungi entitas atau kelompoknya yang terancam atau diancam. Keempat, untuk mengembalikan lagi hak-hak mereka yang terdahulu, perlakuan khusus (previleges) dan keuntungan-keuntungan lainnya yang selama ini hilang. Biasanya, motivasi kalangan teroris adalah untuk menghilangkan rasa takut dan ketidakpastian untuk mencapai publisitas maksimum untuk tujuan-tujuan eksplisit.[1]

Motif teroris semakin mantap disebabkan karena adanya prasangka dari diterimanya informasi yang salah, perkelahian jalanan (street brawls) dan seringnya publikasi serta pertemuan. Motivasi kalangan teroris juga bersifat impulsif dan tidak konsisten. Motivasi dasarnya adalah prajurit bayaran atau materialistis, politis, berdasarkan agama (tanpa kesalehan) dan pada umumnya bersifat destruktif atau merusak.[2]

Disamping itu, motif terjadinya teror bisa disebabkan karena ketidak beruntungan, terpinggirkan, diskriminasi, tereksploitasi, dan kemiskinan. Meskipun demikian, terorisme tidak bersifat endemik. Motivasi organisasi teroris yang berdasarkan kepada politik atau ideologi atau agama akan segera disebarluaskan dalam ide-ide dan tindakan-tindakan wajib.[3]

Motif teroris pada dasarnya memiliki dua wajah, yaitu adanya dorongan destruktif awal yang akan menciptakan rasa takut dalam masyarakat sasaran serta serangan militer konvensional. Salah satu perang psikologis adalah merupakan amunisi utama kalangan teroris. Motif juga menggunakan imaginasi orang lain, baik secara langsung atau melalui media. Kecemasan dan ketidakpastian dimanipulasi sehingga membuat korban atau masyarakat membantu para teroris untuk mencapai tujuannya.[4]

Kalau motivasi teroris seperti diungkapkan diatas, kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apa perbedaan antara teroris dengan kelompok kriminalitas lainnya. Organisasi kriminal adalah aktivitas kriminal yang dilakukan oleh kelompok atau beberapa orang yang melakukan tindakan kriminal secara bersama-sama, ada strukturnya serta saling berkoordinasi.

Titik pertemuan antara teroris dengan kriminal menurut Makarenko, 2004) yaitu, pertama, teroris mungkin terlibat dalam kegiatan kriminal biasa dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan mereka dan operasi mereka. Almarhum M Syarief (pelaku bom bunuh diri di Masjid Az Zikro Polres Cirebon) dan almarhum Ahmad Yosefa Hayat (pelaku bom bunuh diri GBIS Kepunton, Solo) sebelumnya terlibat dalam tindakan kriminal mencuri di Alfamart dan terlibat dalam aksi-aksi unjuk rasa anti maksiat atau anti pembangunan gereja.[5]

Kedua, organisasi kriminal menggunakan cara-cara kekerasan dan intimidasi kepada pemerintah dan masyarakat untuk mencapai tujuan politik mereka, seperti pembunuhan jaksa penyelidik di Sicilia, Italia, Giovanni Falcone pada tahun 1992 serta kemungkinan pembunuhan jaksa yang mengadili kasus Tommy Soeharto, M. Syafiuddin Kartasasmita pada tahun 2004.

Ketiga, pelaku kegiatan kriminal pada dasarnya dipolitisi dan mengkonversi menjadi gerakan teroris. Contoh, perampokan Bank CIMB Niaga di Medan, Sumut yang dilakukan oleh kelompok Fadli Sadama.

Keempat, kelompok teroris mungkin meninggalkan atau menunda agenda-agenda politiknya dan kembali melakukan tindakan kriminal biasa, seperti perampokan bank di Inggris yang dilakukan oleh kelompok IRA pada tahun 2004.

Kelima, kelompok teroris dan organisasi kriminal mungkin saling bekerjasama dalam pengetahuan dan komoditas untuk keuntungan bersama. “Selama penggerebekan kelompok teroris Aceh, polisi menyita AK47, M16, dan pistol,” kata Deputi Direktur Jenderal Multilateral Departemen Luar Negeri Hadi Hartono di sela-sela Regional Meeting on the Implementation of the United Nations Programme of Action to Prevent, Combat and Eradicate the Illicit Trade in Small Arms and Light Weapons in All Its Aspect, hotel Holliday InnKuta, Kuta, 29/3/2010.[6]

Keenam, organisasi seperti “D Company” di India yang merupakan gabungan dari teroris dan kelompok kriminal yang terlibat dalam  penjualan narkoba, pencucian uang dan peledakan bom di Mumbai pada tahun 1993 yang menewaskan 257 orang.

Dalam rangka menganalisis atau mengetahui tentang kegiatan teror dan kriminal biasa, ada beberapa teori yang bisa dipakai antara lain  teori aktivitas rutin yang dikembangkan oleh Cohen dan Felson sejak tahun 1979, dimana kelompok teroris dalam aktivitas rutinnya bertujuan untuk merubah dunia, sehingga kelompok teroris adalah organisasi politik, sedangkan kelompok kriminal tujuan rutinnya adalah mencari uang, sehingga mereka termasuk organisasi bisnis. Kemudian ada teori asosiasi diferensial yang diperkenalkan oleh Edwin Sutherland pada tahun 1947 yang pada intinya menyatakan, kepercayaan merupakan  kesepatan penting bagi kolaborasi kelompok kriminal dan teroris, sehingga mereka merekrut anggotanya dengan cara hati-hati, terutama diutamakan yang memiliki hubungan keluarga.

Sementara itu, menurut Merton (1938) yang memperkenalkan teori ketegangan (strain theory) menyatakan, aktivitas kriminal dan teroris dilakukan ketika tujuan-tujuan individu tidak dapat dicapai dengan cara-cara yang legal atau tidak melanggar hukum. Namun, ketegangan tidak terkait dengan perbedaan ekonomi, sebab menurut penelitian Sageman (2008 ; 48) menyatakan, banyak teroris yang berasal dari kelompok kelas menengah seperti Umar Farouk Abdulmutallah dari keluarga kelas menengah di Nigeria dan teroris dari Norwegia Andreas Breiving Breiveik juga berasal dari kelas menengah.

Sedangkan berdasarkan resources dependency theory atau teori sumber daya terbatas yang dikembangkan  Pfeffer dan Salancik (1978) menyatakan, organisasi tergantung kepada sumber daya untuk dapat bertahan dan berkembang serta mempertahankan hubungan dengan dunia luar. Sumber daya tersebut bisa sumber daya material seperti senjata, bahan peledak ataupun uang untuk membelinya. Oleh karena itu, sukses tidaknya organisasi kriminal atau teroris tergantung pada kemampuannya untuk mengumpulkan dan mengelola sumber daya miliknya.

Tulisan ini berusaha untuk mereview beberapa kasus teror yang terjadi di Indonesia ataupun di luar negeri yang semuanya dilakukan sesuai dengan motif-motif terorisme dan teori yang terkait dengan terorisme sekarang ini. Meskipun demikian, ada sedikit kritikan dari mantan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN), Letjen Purn HM Soedibyo yang menyatakan bahwa buku atau bahasan tentang “Terrorism and their motivation” telah mengungkap berbagai macam motif-motif kegiatan teror, namun tulisan ini terlalu berat substansinya, bahasa Inggrisya sulit dimengerti dan tidak cocok untuk kalangan masyarakat umum.[7]

 

  1. Contoh Aksi Terorisme dan Motifnya

 

Kejadian bom bunuh diri oleh mantan anggota Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) Cirebon, Ahmad Yosepa Hayat[8] alias Achmad Urip di GBIS, Kepunton, Jebres, Solo,  Jawa Tengah pada 25 September 2011 pada dasarnya disebabkan karena salah dalam menggunakan atau menerapkan jihad, sehingga motivasi utama pengeboman GBIS Solo menurut Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Anton Bachrul Alam, adalah jihad.

Jihad disebut dalam kitab suci Al Qur’an sebanyak 41 kali. Tema “jihad” itu sendiri berasal dari kata kerja yaitu “jahada” berarti usaha, upaya. Derivasinya, jahada, yujahidu, jihad wa  mujahadah. Maka membicarakan jihad berarti membicarakan  juga derivasinya  atau musytaqohnya yaitu ijtihad dan mujahadah. Baik jihad, ijtihad dan mujahadah berasal dari satu akar kata yang bermakna keseriusan dan kesungguh-sungguhan. Berjihad adalah membangun atau mengupayakan sesuatu yang sifatnya fisik maupun non fisik. Ijtihad artinya usaha membangun sisi  intelektualitas manusia, seperti ijtihad para ulama dan kiai dalam forum batsul masail. Mujahadah berarti upaya sungguh-sungguh membangun  sprititualitas manusia.[9]

Ada beberapa kitab yang dikaji di lingkungan pondok pesantren yang membahas tentang jihad yakni kitab I’anah al Thalibin karya Syekh Zain al Din al Malibari, salah seorang ulama dari mazhab Syafi’i yang merupakan syarah atau ulasan detail dari kitab Fathul Mu’in. Menurutnya, al jihad fardhu kifayah marrah fi kulli’am yaitu bahwa jihad itu hukumnya fardhu kifayah dalam setiap tahun artinya kalau sudah ada yang melaksanakan, maka gugurlah kewajiban itu bagi yang lain. Kemudian, ditambahkan jihad itu ada 4 macam yaitu itsbat wujudillah, iqomah syariat’illah, al qital fi sabillillah dan daf’udlarur mas’humin, musliman kana ay dzimmiyan. Jihad itsbat wujudillah menegaskan eksistensi Allah SWT seperti azan, sholat berjamaah, takbir, zikir dan witir. Jihad iqamatu syariat’illah yaitu menegakkan syariat dan nilai-nilai agama seperti sholat, puasa, zakat, haji, nilai-nilai kejujuran, keadilan, kebenaran dan sebagainya.  Jihad al qital fi sabilliah artinya jika ada komunitas yang memusuhi, maka dengan segala argumentasi yang dibenarkan agama bisa berperang sesuai dengan rambu-rambu yang ditetapkan Allah SWT. Jihad daf’u dlarar ma’shumin musliman kana au dzimiyyan yakni mencukupi kebutuhan dan kepentingan orang yang harus ditanggung oleh pemerintah, baik itu muslim maupun non muslim yang bukan musuh. Oleh karena itu, jihad sebenarnya dalam Islam adalah upaya mengayomi dan melindungi orang-orang yang berhak mendapatkan perlindungan, baik muslim atau non muslim. Peristiwa Fath Mekkah merupakan bukti bagaimana umat Islam menempatkan makna jihad sebagai sebuah nilai kedamaian dan kasih sayang.[10]

Namun, menurut Robert Spencer, teror itu merupakan sublimasi keyakinan teologis yang mendalam dari pemeluknya. Teror bukanlah ekspresi sampingan, melainkan ekspresi maha dahsyat yang bersumber dari teks-teks Islam. Mungkin saja di wilayah Islam terdapat kedamaian atau setidaknya tidak terjadi perang, namun Islam sesungguhnya mendeklarasikan perang terus menerus antara orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir.[11] Kasus peledakan bom bunuh diri di GBIS Kepunton, Solo, Jawa Tengah membenarkan tesis Spencer ini, namun peledakan bom bunuh diri yang dilakukan M Syarief di Masjid Az Zikro Polres Cirebon cenderung membantah tesis Spencer, karena umat Islam tidak menyerang umat Kristen yang dianggap kafir. Tindakan M Syarief bahkan dilakukan kepada thogut[12] yang dianggap melawan Islam, walaupun dia beragama Islam.

Dewasa ini radikalisme memang banyak datang dari kelompok muslim, hal ini disebabkan antara lain karena: pertama, ketaatan beragama memang menjadi ciri keyakinan banyak golongan muslim. Kedua, adanya falsafah bahwa sesama muslim adalah saudara sehingga harus atau wajib saling membantu. Ketiga, adanya keinginan untuk menerapkan syariat Islam, yang nota bene adalah ajaran Tuhan,  adalah ajaran yang harus dicoba ditrapkan sebagai dasar negara RI. Keempat, adanya keyakinan bahwa musuh golongan muslim adalah golongan Yahudi dan Kristen.

Oleh karena itu, aksi-aksi teror yang pernah terjadi di Indonesia berdasarkan motivasinya dapat dikelompokan antara lain : pertama, sekedar tindakan yang merupakan efek dari keyakinan terhadap agama dengan ssasarannya agama lain, contohnya adalah tindakan bom bunuh diri di GBIS Kepunton, Jebres, Solo, Jawa Tengah pada 25 September 2011.

Kedua, keinginan untuk memberlakukan syariat Islam, dengan sasaran adalah lambang-lambang negara RI seperti diungkapkan Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri pada 14 Mei 2010 yaitu berdasarkan hasil interogasi tersangka dan dokumen milik teroris yang berhasil diungkap Polri mereka merencanakan serangan mematikan kepada RI 1, pejabat negara dan tamu negara pada saat upacara 17 Agustus di Istana Negara.

Ketiga, adanya pengaruh teror internasional dengan sasaran simbol-simbol hegemoni orang asing seperti bom McDonald’s Makassar tahun 2002 adalah sebuah peristiwa ledakan bom di restoran McDonald’s tepatnya di Mal Ratu Indah pada 5 Desember 2002 sekitar pukul 18:00 Wita. Ledakan ini berasal dari bom rakitan yang dibungkus wadah pelat baja meledak saat puluhan pengunjung memadati tempat itu untuk buka puasa dan makan malam. Ledakan tersebut menewaskan 3 orang dan melukai 11 orang. Akibat peristiwa itu restoran McDonald’s ditutup selama 5 bulan dan beroperasi kembali pada Mei 2003.

Keempat, kegiatan teror atau pemboman sebagai tindakan balas dendam dengan sasaran alat-alat negara seperti Polisi, contohnya antara lain Sebuah ledakan keras terjadi di halte angkutan umum simpang Sumber Arta, Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (30/9/2010). Seorang lelaki, yang belum diketahui identitasnya, dikabarkan terluka akibat ledakan tersebut. Sejauh keterangan yang diperoleh, ledakan itu berasal dari tas yang dibawa lelaki yang kemudian terluka akibat ledakan itu.[13] Kemudian, bom di Masjid Az Zikro, Mapolres Cirebon yang dilakukan M Syarief pada 15 April 2011 dengan korban 25 orang luka-luka dan pelakunya tewas.[14]

Kelima, kemunkinan munculnya radikalisme oleh aliran-aliran lain dengan sasaran golongan yang menjadi rivalnya seperti dalam kasus bentrok agama dll seperti pembangunan gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) tengah berjalan, namun penolakan masih terjadi oleh umat muslim setempat yang menamakan diri Forum Solidaritas Umat Muslim (FSUM) Cinere serta kebaktian 200 jemaat gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Pondok Timur Indah, Kota Bekasi, Jawa Barat, terganggu karena diprotes warga muslim yang menolak rencana pembangunan gereja, pada 25 Juli 2011 disebabkan karena pembangunan gereja tidak memiliki izin. Kebaktian dilaksanakan di lahan kosong Kampung Ciketing Asem, Kecamatan Mustika Jaya. Mereka beribadah sambil berdiri di bawah pohon rambutan, setelah awal Juli lalu, Pemerintah Kota Bekasi menyegel sebuah rumah yang biasa mereka gunakan kebaktian di jalan Puyuh Raya, Mustika Jaya, karena tidak mengantongi izin. Tidak hanya gereja yang ditolak, pembangunan masjid juga ditolak seperti di NTT. Wali Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Daniel Adoe, memutuskan menghentikan sementara pembangunan Masjid Nur-Musofir di Kelurahan Batuplat, Kecamatan Alak. Penghentian itu dilakukan karena adanya penolakan dari warga Batuplat terkait pembangunan masjid tersebut. Warga menduga dokumen perizinan pembangunan masjid itu dimanipulasi.[15]

Sementara itu, tindakan teror dalam rangka melawan hegemoni Amerika Serikat dan sekutunya juga pernah terjadi seperti dilakukan oleh kelompok Imam Samudera cs yang terkenal dengan kasus bom Bali. Motivasi utama peledakan bom ini adalah melawan atau anti Amerika Serikat dan globalisasi. Bom Bali terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002 di kota kecamatan Kuta di pulau Bali, Indonesia, mengorbankan 202 orang dan mencederakan 209 yang lain, kebanyakan merupakan wisatawan asing. Peristiwa ini sering dianggap sebagai peristiwa terorisme terparah dalam sejarah Indonesia. Beberapa orang Indonesia telah dijatuhi hukuman mati karena peranan mereka dalam pengeboman tersebut. Abu Bakar Baasyir, yang diduga sebagai salah satu yang terlibat dalam memimpin pengeboman ini, dinyatakan tidak bersalah pada Maret 2005 atas konspirasi serangan bom ini, dan hanya divonis atas pelanggaran keimigrasian. Adapun kewarganegaraan para korban dipercayai adalah Australia sebanyak 88 orang, Indonesia (38 orang), Amerika Serikat (7 orang), Swedia (5 orang), Belanda dan Perancis (masing-masing 4 orang), Denmark, Selandia Baru dan Swiss (masing-masing 3 orang), Brazil, Kanada, Jepang, Afrika Selatan dan Korea Selatan (masing-masing 2 orang), Ekuador, Yunani, Italia, Polandia, Portugal dan Taiwan (masing-masing 1 orang).

Sementara itu, untuk kasus-kasus teror yang terjadi di luar Indonesia juga sering terjadi seperti kasus peledakan sekolah di Oklahoma karena pelakunya sakit hati, penembakan anak-anak sekolah secara massal di Amerika Serikat karena pelakunya stess serta penembakan massal yang dilakukan Andres Breiving Breivik juga karena yang bersangkutan bersifat ultra nasionalis dan anti pendatang.

 

  1. Kesimpulan dan Rekomendasi

 

Semua teori dan motivasi yang mendasari terjadinya perilaku tindakan terorisme dan radikalisme mempunyai contoh masing-masing dalam kasus-kasus teror dan radikal yang terjadi baik di Indonesia maupun di luar Indonesia.

Memerangi radikalisme dan teror bukan masalah yang gampang, karena berdasarkan analisa sebab-sebab sifat radikal di Indonesia banyak sekali, yang paling besar adalah kebodohan dan kemiskinan  yang mencengkeram kebanyakan masyarakat Islam ditingkat bawah. Derajat sifat religius masyarakat Indonesia memang tinggi, sehingga mudah sekali menerima pandangan-pandangan yang bersifat religius untuk menghadapi kehidupannya bahkan untuk mengatur masalah-masalah kenegaraan dewasa ini.

Konsep pluralisme dirasakan sangat menyakiti hati golongan mayoritas Islam yang condong disudutkan sebagai kelompok yang dianggap tidak toleran terhadap golongan minoritas.

Disamping itu, ada kemungkinan teror dan radikalisme di Indonesia disebabkan karena akibat penjajahan yang panjang dan kemerdekaan yang harus dibayar dengan tetesan darah telah mendidik bangsa Indonesia dengan kebiasaan memperjuangkan sesuatu dengan menempatkan kekerasan sebagai salah satu alternatif.

Terkait dengan pemberantasan terorisme dan radikalisme, maka untuk mengisi kekosongan UU Keamanan Nasional dan UU Intelijen yang belum disahkan sampai saat ini, maka perlu disarankan agar Presiden mengeluarkan dekrit yang intinya berisi antara lain memberi wewenang kepada Menko Polkam untuk dengan Ijin Khusus terlebih dahulu dari Presiden melakukan tindakan-tindakan operasional mengah terjadinya aksi-aksi teror dengan motif apapun (seperti yang berlaku di AS dengan sistem sunset policy).

 

*) Penulis adalah alumni Pasca Sarjana Universitas Indonesia.

[1]  Wright, Lawrence “Terrorist and Their Motivation”. H. 50-51.

[2]  Ibid. H. 56

[3] Ibid. H. 59

[4] Ibid hal 62

[5] Wawancara dengan penasehat International Crisis Group (ICG), Sidney Jones, Jakarta, 30 September 2011

[6] Diunduh dari www.detiknews.com, tanggal 29 Maret 2010

[7]  Wawancara dengan mantan Kepala BAKIN, Letjen Purn HM Soedibyo, 1 Oktober 2011

[8]  Keterkaitan Hayat dengan JAT telah ditolak oleh Direktur JAT Media Center, Son Hadi dan Juru Bicara JAT Ngruki Solo, Abdurrahman Baasyir alias Iim.

[9]    Arubusman, Muhyiddin dan Syahdatul Kahfi. (2006). “Terorisme di tengah arus global demokratisasi”, Spectrum. Jakarta. H. 170.

[10]   Zain al Din Malibri, Syeikh “I’anah al Thalibin”. Beirut : Dar Al Fikr, dalam Muhyiddin Arubusman dan Syahdatul Kahfi, “Terorisme di tengah arus global demokratisasi”. Spectrum. Jakarta. 2006. H 171-172.

[11]    Spencer, Robert. (2002). “Islam Unvieled”. Diambil dari artikel “Teror atas nama Islam” ditulis Zainal Abidin Nawawi di Harian Duta Masyarakat,  29 September 2011.

[12]     Pengertian thogut dikalangan aktivis JAT sebenarnya berbeda-beda penafsiran. Ada yang menyatakan PNS, militer, jaksa, dan polisi adalah thogut. Namun, menurut Ustadz Nurdin, anggota JAT di Bima, NTB (dalam elisitasi di Bima, NTB pada 25 September 2011), yang dimaksud dengan thogut bukanlah profesinya, melainkan tindakan kehidupannya yang melanggar Islam. Walaupun dia PNS, polisi atau militer tapi kalau melakukan ajaran Islam dengan baik tidak masuk dalam thogut.

[13]   Diunduh dari situs berita www.detik.com tanggal 30 September 2010

[14]   Diunduh dari situs berita www.detik.com tanggal 15 April 2011

[15] Diunduh dari situs berita www.tempointeraktif.com tanggal 10 Agustus 2011

Tinggalkan Balasan

Previous post PERLUNYA REFORMASI INTELIJEN DALAM MENGANTISIPASI PERKEMBANGAN ANCAMAN
Next post Perang Kota Meletus di Selatan Kiev
%d blogger menyukai ini: