PENDADAKAN STRATEGIS SEBAGAI “HANTU” BAGI INTELIJEN

Resensi buku

 

Judul buku          :SECRET INTELLIGENCE : A READER

Editor                    :Christopher Andrew, Richard J Aldrich dan Wesley K Wark

Penerbit               :Routledge Taylor and Francis Group London and New York

Tebal buku          : 552 halaman

Bahasa                  : Inggris

Peresensi             : Toni Ervianto (Alumni Pasca Sarjana Kajian Strategik Intelijen, Universitas Indonesia)

 

PENDADAKAN STRATEGIS SEBAGAI “HANTU” BAGI INTELIJEN

 

Buku berjudul “Secret Intelligence : A Reader” ini dibagi dalam empat bagian yaitu : Roda Intelijen/the Intelligence Cycle (bagian pertama), Intelijen, Counter Terorisme dan Keamanan (bagian kedua), etik, akuntabilitas dan pengawasan (bagian ketiga) serta intelijen dan new warfare (bagian keempat). Buku setebal 552 halaman ini juga merupakan kumpulan tulisan dari sebanyak 28 orang penulis yang berasal dari pengamat masalah internasional, pengamat masalah terorisme, mantan anggota CIA, analis CIA, serta kalangan ahli strategi dan politik.

Dalam bagian pertama buku ini ditegaskan bahwa munculnya pendadakan strategis (strategic surprise) disebabkan karena “kesalahan intelijen”, khususnya dalam high level analysis yang terjadi karena bias kognitif, adanya stereotype dan luasnya birokrasi analisa (jenjang pembuatan analisa yang terlalu luas). Oleh karena itu, ke depan disarankan untuk mengembangkan budaya “need to share” untuk mengganti “need to know”.

Pembahasan selanjutnya dalam bagian pertama buku ini adalah tentang pengumpulan informasi yang dilakukan melalui signal intelligence (signint), human intelligence (humint) dan open source intelligence (Osint), terutama dikaitkan dengan keberadaan Al Qaeda dan pasca serangan 11 September 2011. Pasca terjadinya serangan 9/11 yang dinilai berbagai kalangan sebagai “intelligence failure” dari CIA, NSA dan FBI, maka terjadi perubahan besar-besaran di kedua institusi intelijen tersebut baik dalam bidang jumlah personil ataupun anggaran yang disediakan oleh negara. FBI misalnya yang sebelum serangan 9/11 mempunyai 12.000 agen khusus, sekarang hanya mempunyai 4.600 agen yang bergerak di bidang kasus-kasus kriminal, counter terrorism, dan keamanan domestik. Kemudian dana untuk US Intelligence Community juga dikurangi dari $ 34 miliar menjadi $ 27 miliar.

Terkait dengan Al Qaeda, berdasarkan informasi yang diperoleh CIA dan FBI melalui Signint dapat disimpulkan bahwa Al Qaeda merupakan organisasi transnasional yang tidak dapat lepas dari sponsor negara dan mempunyai simpanan anggaran sebesar $ 250 miliar. Bahkan, menurut Vincent Cannistrato (mantan Kepala CIA bidang counter terrorism) menyebutkan Al Qaeda sebagai “privatisasi terorisme internasional”. Disamping itu, Al Qaeda tergantung kepada sumber-sumber pendanaan tidak konvensional, Al Qaeda masih memiliki hubungan dengan sejumlah organisasi teroris fundamentalis yang berada di Afrika Utara, Timteng, bekas negara pecahan Uni Soviet dan Asia. CIA, NSA dan FBI juga mengakui bahwa melalui Humint mereka juga masih kesulitan untuk “masuk” atau “penetrasi” ke organisasi Al Qaeda disebabkan karena Al Qaeda adalah organisasi religius dan non politik, termasuk ketatnya kompartementasi di organisasi tersebut.

Hal yang menarik lainnya dibahas dalam bagian pertama buku ini adalah tulisan CM Andrew yang berjudul “American Presidents and their intelligence communities” yang menyebutkan bahwa ada beberapa Presiden AS yang memiliki hubungan baik atau menggunakan analisa intelijen sebelum membuat kebijakan antara lain, George Washington. Sedangkan, Presiden AS lainnya yang memiliki “bakat intelijen” yaitu Einsenhower, Kennedy dan Bush. Menurut Robert Gates, informasi yang diperoleh intelijen sangat diperlukan dalam rangka memprediksi adanya kudeta, gejolak (upheavals), kerusuhan (riots), intentions (niat) dan pergerakan militer (military moves).

Sementara itu, pada bagian kedua buku ini pada umumnya membahas tentang persamaan antara serangan Pearl Harbour tahun 1941 dengan serangan 11 September 2001, kasus Weapons Mass Destruction (WMD) Iraq dan kasus separatisme di Irlandia Utara. Terjadinya serangan 11 September 2001 disebabkan karena tidak adanya pembagian informasi antara CIA dan FBI, termasuk ekses terjadinya intrik antara CIA dengan NSA yang bertanggung jawab terhadap signal intelligence. Dalam kasus WMD Iraq, memang terjadi perbedaan analisa intelijen antara intelijen Jerman (BND) dengan CIA, dimana selama ini hubungan antara BND dengan CIA memang tidak harmonis.

Terkait dengan serangan 9/11, Daniel Bymann menyatakan, hal tersebut terjadi karena beberapa sebab antara lain patologi birokrasi, adanya batasan politik dalam pembuatan kebijakan, tidak adanya prioritas, kesalahan kognitif, kesalahan kebijakan serta adanya risk aversion di tubuh CIA. Disamping itu, serangan 9/11 juga terjadi disebabkan karena hasil analisa terkait dengan Al Qaeda selama ini memang lemah, karena tidak adanya atau kurangnya informasi yang detail terkait Al Qaeda. Sedangkan, James J Wirtz menyatakan, serangan 9/11 terjadi disebabkan karena diabaikannya signal peringatan yang muncul antara lain penyerangan yang dilakukan Al Qaeda sebelum 9/11 seperti penyerangan ke US Rangers di Somalia tahun 1993, pengeboman di Saudi Arabian National Guard November 1995 dan penyerangan di Kompleks Khobar Towers di Dahran pada Juli 1996. Disamping itu, juga karena adanya kerentanan struktural, pendadakan yang bersifat teknologi dan ketidakcocokan antara kepentingan dan ancaman. Ancaman ke depan yang patut diwaspadai aparat intelijen karena bisa menimbulkan serangan teror antara lain, anti demokrasi, anti pasar bebas, penolakan kaum fundamentalis terhadap globalisasi dan budaya barat.

Ancaman lainnya yang diperhatikan pihak Barat sekarang ini adalah “the new Islamic terrorist” dalam bentuk gerakan Salafi yang dinilai anti Barat. Gerakan ini diperkirakan sangat berkembang dan menjadi ancaman, khususnya di Inggris dan Canada. Al Qaeda, Hezbollah, Pasdaran (Revolutionary Guards Corps) di Iran adalah gerakan-gerakan radikal berideologi Salafi.

Selain itu, dalam tulisan B. Bamford berjudul “Intelligence in Northern Ireland” juga dibahas tentang beberapa gerakan radikal dan separatis seperti Northern Ireland Civil Rights Association (NICRA), the Ulster Defence Association (UDA), the Ulster Volunteer Force (UVF), the Ulster Freedom Fighters (UFF) serta Irish Republican Army (IRA).

Pada bagian ketiga buku ini membahas secara mendalam tentang etik, akuntabilitas dan pengawasan terhadap intelijen. Beberapa penulis dalam buku ini juga menyatakan bahwa ada beberapa orang yang patut diwaspadai secret service yaitu wartawan investigatif, NGO, whistle blowers, kelompok think tanks, kelompok lobi dan kalangan pensiunan profesional yang seringkali dijadikan agen dan informan bagi lembaga intelijen lawan.

Berbicara tentang etika dalam intelijen dikaitkan dengan penyiksaan (torture) dan pembunuhan (assasination). Beberapa penulis dalam buku ini juga mengakui bahwa penyiksaan terhadap tahanan dari Al Qaeda dan Afghanistan juga telah masuk kategori pelanggaran HAM terutama yang dilakukan di Abu Ghuraib dan penjara Guantanamo. Disamping itu, kalangan para penulis juga menyatakan cara kerja intelijen sangat berbeda dengan alam demokrasi yang bercirikan keterbukaan dan partisipasi, pembagian kekuasaan, penegakkan hukum, privasi dan kepercayaan bersama, sementara itu intelijen bergerak dalam cara kerja berdasarkan kerahasiaan, prinsip need to know, dan kompartementasi informasi. Terkait dengan penegakkan hukum, maka MC Ott menyatakan, intelijen secara kontras memerlukan “perlakuan-perlakuan khusus” dibawah undang-undang yang bersifat nasional dan “dibenarkan” aparat intelijen kita untuk merusak aturan-aturan hukum di negara lawan sepanjang tidak diketahui. Bahkan ditegaskan oleh Kate Martin, adanya “dinding atau wall” antara penegakkan hukum dan aktivitas intelijen yang membuat CIA dan FBI gagal menemukan siapa pembajak tragedi 9/11. Oleh karena itu, para penulis juga menyarankan agar masyarakat bisa menyadari bahwa kegiatan intelijen memang cenderung melanggar civil liberties dan tidak bisa dilakukan “check and balances” terhadap kegiatan intelijen (halaman 359).

Sementara itu, dalam bab keempat buku ini pada umumnya membahas kegunaan intelijen dalam rangka peacemaking dan peace keeping.  Buku ini sebenarnya merupakan salah satu bacaan mahasiswa Kajian Strategik Intelijen di Universitas Indonesia pada semester dua, dimana buku ini menggambarkan banyak hal tentang cerita dan fakta tentang berbagai kasus-kasus dan peristiwa besar terkait dengan aktivitas intelijen, sehingga buku ini perlu dimiliki oleh lembaga intelijen, para pembuat kebijakan dan terutama analis intelijen.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Paradoks-Paradoks Dalam Intelijen Strategis
Next post MANFAAT INTELIJEN STRATEGIS BAGI PERENCANAAN MASA DEPAN