PENTINGNYA WARNING INTELLIGENCE BAGI PEMBUAT KEBIJAKAN

PENTINGNYA WARNING INTELLIGENCE BAGI PEMBUAT KEBIJAKAN

Resensi buku

 

Judul buku          :HANDBOOK OF WARNING INTELLIGENCE

Penulis                 :Cynthia Grabo

Kata Pengantar :Jan Goldman

Penerbit              :Scarecrow Professional Intelligence Education Series

Tebal buku          : 280 halaman + kata pengantar dan lampiran

Bahasa                  : Inggris

Peresensi            : Toni Ervianto (Alumnus Pasca Sarjana Kajian Intelijen Strategis, Universitas Indonesia)

——————————————————————————————————————————————————————————————

PENTINGNYA WARNING INTELLIGENCE BAGI PEMBUAT KEBIJAKAN

 

Salah satu tugas utama dari badan intelijen di negara manapun juga adalah memberikan “warning” atau peringatan atas kemungkinan adanya ancaman dan pendadakan strategis yang datang dari pihak manapun juga. “Warning” itu sendiri dibagi dalam strategic warning atau peringatan strategis dan tactical warning atau peringatan taktis. Strategic warning itu sendiri dibagi dalam strategic warning sebelum dikeluarkannya keputusan/kebijakan dan strategic warning setelah dilakukan aksi atas kebijakan yang telah dikeluarkannya. “Warning” diperlukan oleh pembuatan kebijakan atau keputusan secepat dan seakurat mungkin. Sementara itu, “tactical warning” terkait erat dengan operasional intelijen, namun bukan merupakan bagian fungsi dari intelijen.  Terkait dengan waktu dikeluarkannya “warning”, maka warning dibagi dalam imminent (dekat), immediate future (masa langsung), near future (waktu dekat), soon (segera) dan foreseeable future (masa depan).

Agar badan intelijen tidak salah dalam memberikan “warning/peringatan”, maka Cynthia Grabo sebagai penulis buku yang juga pernah direkrut Army Intelligence US tahun 1942 ini, menulis bahwa “warning” bukan merupakan komoditi (karena warning adalah tidak terukur, abstrak, sebuah teori, sebuah persepsi dan sebuah beliefs), warning juga bukan current intelligence, warning juga bukan kompilasi dari berbagai fakta, dan warning juga bukan konsensus mayoritas. Namun warning adalah sebuah upaya penelitian yang lengkap, warning adalah penilaian atas berbagai probabilitas, warning adalah penilaian dari pembuat kebijakan, dan warning adalah keyakinan yang menghasilkan tindakan.

Untuk membuat sebuah “warning” yang baik, maka sumber-sumber informasi yang terkait dengan warning tersebut haruslah berasal dari sumber-sumber tertutup, memiliki nilai akses langsung atau hasil observasi, sangat detail dan spesifik, dan timeliness.

Buku “Handbook of Warning Intelligence” ini pada dasarnya lebih membahas tentang fungsi-fungsi intelijen militer pada saat peperangan, dimana penekanannya adalah tugas utama intelijen adalah tidak hanya mengestimasi niat musuh namun juga kemampuannya untuk melaksanakan niatnya tersebut (intelligence should not estimate the intentions of the enemy, but only his capabilities).             Untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, intelijen harus dilengkapi dengan pelatihan yang berkualitas, kepemimpinan dan moral. Namun, untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, maka seringkali aparat intelijen memiliki berbagai hambatan antara lain hambatan psikologis yang merupakan masalah serius dalam membuat warning intelligence. Disamping itu, masalah mendasar dalam intelijen adalah adanya overlapping tugas dan fungsi serta mekanisme koordinasi yang seringkali tidak berjalan (dibahas dalam Bab 6).

Untuk dapat mengetahui niat musuh akan menyerang kita atau tidak, maka dalam pembuatan “warning intelligence” ada beberapa daftar indikasi yang perlu diperhatikan yang tidak hanya bersifat militer saja, melainkan juga bersifat politik dan juga ekonomi, termasuk juga ada tidaknya mobilisasi penduduk. Informasi penting lainnya yang harus dicari aparat intelijen terkait dengan niat musuh adalah bagaimana doktrin militer negara tersebut, bagaimana perhatian masyarakatnya serta bagaimana sikap masyarakatnya terkait dengan pengalaman perang yang pernah dilaluinya ataupun menyikapi krisis-krisis internasional.

“Pendadakan atau surprise” adalah aib yang harus dapat diketahui aparat intelijen sebelum terjadi. Oleh karena itu, untuk mengetahui akan terjadi atau tidak terjadinya surprise, maka kalangan analis intelijen harus mampu bermain atau berperan sebagai oposisi (untuk mengetahui jalan pikiran oposisi), memperhatikan rumors yang terjadi, laporan-laporan yang tidak dapat dikonfirmasi, situasi internasional, bahkan atmosfer umum krisis yang berlaku. Disamping itu, warning intelligence harus mengetahui hal-hal yang jelas terjadi, namun juga hal-hal yang masih kabur/tidak jelas. Oleh karena itu, obyektivitas dari kalangan analis intelijen untuk menilai data dan informasi yang masuk dan mengapresiasikannya sesuai dengan situasi yang terjadi juga akan sangat menentukan kualitas warning yang akan dihasilkan.

Dalam buku ini juga diuraikan tentang karakter atau temperamen analis intelijen yang baik harus memenuhi syarat antara lain, memiliki kepentingan dan motivasi, suka bekerja keras, inisiatif, independensi dalam menganalisa atau menilai, mempunyai keberanian untuk mengambil resiko,  tidak peduli dengan ada atau tidak adanya penghargaan dan penilaian dan memiliki sense of responsibility. “Analis intelijen bisa dilatih dan harus berlatih sepanjang waktu,” kata Cynthia Grabo.

Selanjutnya dari bab 13 sampai bab 27, Grabo menjelaskan tentang hal-hal yang perlu diperhatikan atau dicari oleh aparat intelijen terkait dengan “warning intelligence” baik untuk keperluan militer atau diluar militer, seperti data kekuatan, kelemahan, kapabilitas, potensi dan aktivitas militer musuh juga sangat diperlukan karena “know your enemy atau mengetahui musuhmu” adalah masalah utama dalam strategic military warning. Masih terkait dengan militer, hal atau informasi lainnya yang perlu dicari antara lain, doktrin, teori, kesiapan logistik, latihan perang, terminologi militer, teori mobilisasi, kesiapan berperang, prosedur kewaspadaan dan hal-hal lainnya. Disamping itu, “perintah sebelum pertempuran” juga harus dicarikan informasinya khususnya terkait dengan struktur komando musuh, penempatan personil, unit dan perlengkapan perang, kekuatannya, anggaran yang dipakai untuk pembangunan kekuatan militer dan gerakan bawah tanah.

Selain indikasi dari faktor militer, juga ada indikasi dalam faktor politik dan ekonomi untuk mengetahui niat (intention) musuh untuk melakukan atau tidak melakukan serangan antara lain, kebijakan luar negeri dan kegiatan diplomasi jelas merupakan gambaran dari tujuan nasional sebuah negara, kegiatan propaganda yang dilakukan, kegiatan politik negara lain yang dilakukan oleh pihak ketiga (LSM dll), perubahan kepemimpinan nasional baik melalui Pemilu, kudeta ataupun pembunuhan politik.

Sementara itu, indikator ekonomi antara lain, besaran anggaran negara yang diperuntukkan untuk militer, adanya perubahan dalam produksi ekonomi (pembuatan alat-alat perang seperti tank, helikopter dan pesawat terbang dll lebih diutamakan daripada produksi ekonomi lainnya), fokus kegiatan eksport dan import yang dilakukannya, transportasi, makanan dan pertanian juga merupakan indikasi persiapan perang sebuah negara terkait dengan ketahanan pangan selama peperangan dll, karena pada dasarnya full economic mobilization like full military mobilization.

Disamping itu, hal penting lainnya yang perlu diperhatikan oleh aparat intelijen untuk mengetahui kesiapan dan niat menyerang musuh antara lain dari kesiapan yang dilakukan warga sipil di negara tersebut, seperti tergambar dalam adanya latihan evakuasi, pembangunan shelters-shelters, adanya proteksi terhadap hasil pertanian dan suplai air bersih, serta adanya program civil defense dalam rangka meningkatkan moral masyarakat dalam menghadapi situasi krisis/perang.

Selain itu, Cynthia Grabo dalam buku ini juga menjelaskan tentang kegiatan counter intelligence yang perlu dilakukan, karena peranan dari counter intelligence adalah melindungi negara dari ancaman musuh baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Pesan yang ingin disampaikan dalam buku ini adalah jika Anda ingin membantu negara Anda selamat dari ancaman asing dan memiliki ide brilian untuk menyelesaikan permasalahan pelik di negara Anda, maka berikan informasi dan bekerjasama baiklah dengan aparat intelijen.

Buku ini adalah buku wajib yang dipelajari dalam program pasca sarjana Kajian Strategik Intelijen Universitas Indonesia, khususnya pada semester satu dan dua. Oleh karena itu, buku ini rasanya perlu juga dimiliki dan dipelajari oleh lembaga-lembaga intelijen yang ada di Indonesia ataupun kalangan policy maker.

Tinggalkan Balasan