Iran Menekankan untuk Tetap Mendukung Perjuangan Rakyat Palestina

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk diadakannya Pertemuan Kejahatan di Palestina Pendudukan, dan menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina.

Saeed Khatibzadeh, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, pada hari Selasa (29/03/2022), menyinggung pertemuan empat negara Arab dengan rezim Zionis di Palestina Pendudukan pada Senin (28/3).

“Setiap upaya dan langkah untuk menormalkan dan membangun hubungan dengan Zionis-teroris dan penjajah al-Quds adalah belati yang ditusukkan ke punggung rakyat Palestina yang tertindas dan hadiah bagi rezim pembunuh anak-anak (Israel) untuk terus membantai rakyat Palestina dan menduduki tanahnya,” tegas Khatibzadeh.

 

Saeed Khatibzadeh, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran

Pertemuan itu berlangsung di wilayah gurun Negev pada hari Senin (28/3) ini dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry, Menlu Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Abdullah bin Zayed bin Sultan Al Nahyan, Menlu Maroko Nasser Bourita, Menlu Bahrain Abdullatif bin Rashid Al Zayani dan Menlu Amerika Serikat Antony Blinken serta Menlu rezim Zionis Yair Lapid.

Dikatakan bahwa isu Iran, krisis di Ukraina dan normalisasi hubungan negara-negara Arab dengan rezim Zionis menjadi salah satu topik pertemuan.

Terlepas dari komitmen Arab terhadap cita-cita rakyat Palestina, Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko menormalkan hubungan dengan rezim Zionis antara September hingga Desember 2020.

Pada bulan September 2020, UEA, melalui mediasi pemerintah AS saat itu yang dipimpin oleh Donald Trump, menandatangani perjanjian untuk menormalkan hubungan dengan rezim penjajah al-Quds, yang dikenal sebagai “Perjanjian Abraham”, dan secara resmi menjalin hubungan diplomatik dengan rezim ini.

Setelah UEA, tiga negara Arab Bahrain, Sudan dan Maroko juga bergabung dengan Perjanjian Abraham dan menormalkan hubungan mereka dengan rezim Zionis.

Rezim Zionis mencoba menyebut pertemuan ini sebagai langkah bersejarah dalam proses rekonsiliasi dan pembangunan konsensus di kawasan. Namun keadaan di mana Tel Aviv dan para pendukungnya hidup, menunjukkan kebalikan dari klaim ini.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk diadakannya Pertemuan Kejahatan di Palestina Pendudukan, dan menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina.
Sekalipun rezim Zionis diakui oleh banyak negara di dunia, termasuk oleh anggota tetap Dewan Keamanan PBB, tetapi rezim ini menghadapi krisis legitimasi di tingkat regional. Karena sebagian besar negara di kawasan itu belum mengakui keberadaan dan kedaulatannya atas wilayah yang didudukinya.

Penolakan keinginan rezim Zionis sebagai anggota tidak tetap di Uni Afrika, meningkatnya protes bangsa-bangsa Muslim di kawasan dan dunia terhadap rezim ini, kecaman terhadap normalisasi dan perluasan perlawanan pemuda Palestina adalah contoh yang menunjukkan ketidakabsahan dan isolasi lebih lanjut dari rezim Zionis.

Sementara itu, para pejabat UEA dan Bahrain mencoba untuk melihat normalisasi hubungan dengan rezim Zionis memiliki manfaat ekonomi bagi negara-negara ini. Namun pengalaman Mesir dan Yordania sebagai negara Arab pertama yang menormalkan hubungan mereka dengan Tel Aviv adalah hasil sebaliknya dari propaganda ini.

Menurut para ahli, baik Mesir dan Yordania telah terkena pemerasan dan kerugian ekonomi melalui kontrak gas dan perjanjian ekspor dengan Israel dan Amerika Serikat.

“Hubungan yang dinormalisasi antara Yordania dan Israel sangat lemah, yang menghadapi tentangan keras dari rakyat. Israel berusaha mengejar kepentingannya di kawasan dan dunia di luar normalisasi hubungan dan untuk memasuki pasar negara-negara Arab. Karena sebelum perjanjian ini, Israel dalam situasi yang hampir terisolasi,” kata pakar ekonomi Yordania Hosam Ayesh.

Tidak ada keraguan bahwa rezim Zionis, dengan sejarah panjang penjajahan dan praktik anti-manusia, terutama terhadap rakyat Palestina, tidak pernah mengejar hubungan damai yang melayani kepentingan negara-negara Muslim di kawasan.

Kejahatan tentara Zionis Israel

Zionis Israel selalu berusaha mengejar tujuannya seperti ingin keluar dari isolasi regional dan melemahkan masyarakat Islam serta melanjutkan penjajahan dan ekspansi

Sementara Amerika Serikat terus berusaha meyakinkan sekutunya di kawasan dengan mengadakan pertemuan semacam itu, bahkan setelah kemungkinan kesepakatan nuklir dengan Iran, Washington akan terus mendukung mereka.

Tinggalkan Balasan

Previous post Khaji: Kelanjutan Bencana Kemanusiaan di Yaman Harus Dicegah
Next post NATO Kaji Kehadiran Permanen di Eropa Timur
%d blogger menyukai ini: