BERILMU DARI PERKAWANAN

 

Terkadang, kita muak dan kesal punya kawan culas, menikam dari belakang, hobby ngadalin kita dan bahkan kleptomani. Biasanya orang kapok setelah 2x jadi korban kawan model itu. Bahkan, sering juga kita dendam dan berniat membalas dengan cara serupa.

Bagi saya tidak begitu. Walau banyak kawan lain menggoblokan saya, tapi saya santai saja. Biar gimana juga kita akan dapat ilmu jiwa (psikologi/psikiatri) terapan tanpa harus baca belasan buku.
Kawan yang seperti itu memang gak boleh diakrabi, tapi terkadang diperlukan. Terlebih jika kita mau memberi pelajaran pada kawan lain sual sifat, watak, perilaku kawan yang “sakit” tersebut. Idealnya, sufistik, nilai iman kita akan semakin tinggi. Apalagi jika kita tidak kesal, kecewa, marah, benci dan menghujat. Selain itu, kita bisa berhati-hati jika ktemu manusia serupa dengan kawan kita yang “sakitnya kambuhan”.

Jika kita masih berkawan, kita jangan sampai rugi sbg korban berulang dg kerugian meninggi secara kuantitatif dan kualitatif. Yang penting, kita tidak sohorkan kawan itu sebagai “ahli perusak perkawanan”. Cukup kita yang tahu. Kecuali, jika ada kawan yang mau dekat dengan kawan yang sakit tersebut dan bertanya pada kita. Pada mereka kita akan berikan ilmu menghadapi kawan yang sakit tersebut dengan catatan kaki “sebaiknya jangan”. Kita tak bisa disalahkan jika mereka masih berinteraksi dan mendapat “musibah perkawanan”.

Sekian lama berkawan dengan manusia sakit tersebut, kita harus bersikap mencari ilmu. Ibaratnya, kita sekali dua kali terkena bisa/ racun, untuk membuat diri kebal dari bisa/racun selanjutnya. Tapi jangan lalai dalam menggunakan anti toksinnya.
Selamat berfikir dlm berkawan.

Tinggalkan Balasan

Previous post Mariupol Jatuh ke Tangan Rusia, Ratusan Tentara Ukraina Menyerah
Next post Propaganda Hitam Inggris Menabur Perpecahan antara Rusia-Muslim
%d blogger menyukai ini: