Misi Perdamaian Jokowi Gagal?

 

Lawatan Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia setelah menghadiri Undangan G7 selaku Presidensi G20, membawa banyak misi khususnya misi perdamaian Ukraina – Rusia.

Kedatangan Jokowi ke Ukraina, selama masa peperangan, bukanlah kedatangan pemimpin dunia yang pertama kesana tapi pemimpin Asia yang pertama.

Sebelumnya pemimpin Perancis, Jerman, Kanada, Presiden Uni Eropa, Misi PBB dll sudah berdatangan ke Ukraina melalui jalur yang kurang lebih sama.

Tidak ada yang istimewa.
Memang perjalanan Jokowi nampak lebih heroik karena membawa Ibu Riana, dan di dalam negeri perjalanan ini lebih di kapitalisasi secara politis.

Telah banyak bertaburan tulisan dan komentar tentang misi Presiden Jokowi ini yang tidak akan diulang disini, baik yang memuja muji maupun yang mengkritisi.

Tetapi pertanyaan pokoknya adalah apakah misi Jokowi akan berhasil khususnya untuk menghentikan perang Ukraina – Rusia? Rasanya terlalu berlebihan bila kita mengatakan bahwa misi atau kedatangan Jkw akan mampu menghentikan perang.

Konsep perdamaiannya saja kita tidak tahu, atau mungkin tidak ada, atau memang tidak diumumkan ke publik.

Memang banyak yang menduga bahwa perjalanan Presiden Jokowi ini mau menyerupai perjalanan Presiden Suharto ke Bosnia.

Meskipun perjalanan Jokowi nampaknya gagal mengakhiri perang, tetapi bukan berarti gagal keseluruhan setidaknya dunia, seperti dalam konpress Putin, telah mendapat jaminan untuk keamanan rantai rantai pasok pangan dan jalur evskuasi kemanusiaan.

Sebab sekurang kurangnya Jokowi telah menunjukkan upayanya mengamalkan Pembukaan UUD 1945 yaitu mengupayakan perdamaian dunia.

Disamping tentunya dalam rangka menyukseskan posisinya sebagai Presidensi G20.

kembali ke issue pokok yaitu apakah perjalanan Jokowi itu bisa sukses? Rasanya, sekali lagi, sulit untuk berhasil.

Kenapa? Perang Ukraina – Rusia saja, tanpa intervensi asing, sudah menimbulkan masalah yang komplek di dunia.

Antara lain soal soal ekonomi, pangan, keuangan – perbankan, transportasi, pengungsi dll. Masalah masalah ini diperbesar lagi oleh kebiasaan Amerika Serikat dan sekutu sekutunya khususnya sekutu Eropa melalui berbagai embargo dan sanksi sanksi lain khususnya swift perbankan kepada Rusia.

Tanpa sanksi AS pun akibat perang telah berat sekali. Apalagi dengan Amerika Serikat yang telah menghujani sanksi, yang berarti telah memperluas dan memperparah akibat perang.

Sampai sampai akibat sanksi itu telah memukul ekonomi Amerika Serikat sendiri, memukul sekutunya di Eropa sehingga mereka pun mendukung Amerika Serikat dengan setengah hati. Dalam kondisi begini bagaimana Jokowi akan bisa mendamaikan Perang Ukraina – Rusia sebab sebenarnya adalah Perang Ukraina – Rusia dan Amerika Serikat dengan NATO sebagai provokasinya.

Dan Presiden Zelensky entah sadar atau tidak, dengan semangatnya ingin menjadikan negaranya anggota NATO, telah membawa Ukraina kepada pengorbanan yang luar biasa.

Sesuatu yang sejak awal sebetulnya bisa dihindari.

Kini banyak yang menduga, cepat atau lambat, NATO akan bubar dengan sendirinya. Masing masing anggotanya mempunyai kepentingan yang berbeda beda.
Dan Jokowi selamat kembali ke tanah air, urus negeri sendiri khususnya aplikasi2 pembelian BBM, Gas 3 kg dan migor curah yang bikin resah dan gelisah masyarakat.

Jakarta, 1 Juli 2022
Fuad Bawazier

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post 70 Lembaga Keuangan dari 12 Negara Gabung ke SWIFT Versi Rusia
Next post Ukraina Minta Rusia Dicoret dari DK, Moskow: Mungkin jika PBB Bubar !